Halaman

Senin, 12 Agustus 2013

MEMOTRET PASAR NGLIPAR

                                                          


Hari ini Pasaran Pon, sehari menjelang 1 Syawal 1434 H. Pagi masih berkabut dan dingin. Namun, di Pasar Nglipar, sinar matahari perlahan menyelusup di antara sela-sela pepohonan jati, menciptakan bayang-bayang indah pada lorong-lorong pasar. Sehingga, sinar hangat matahari mencerahkan wajah-wajah ceria pengunjung yang hendak berbelanja.

Diah, 73 tahun, sudah sejak subuh tadi menyiapkan dagangannya, dawet ganyong. Nenek yang telah punya 5 anak dan bercucu 8, ini duduk di sudut los pasar dekat pintu masuk. Tempat yang sangat strategis untuk berjualan. Dawetnya dijual seharga Rp 2000,- per bungkus. Ia sudah berjualan sejak anak sulungnya berusia 1,5 tahun. Kini, sulungnya sudah berusia 55 tahun. Namun beberapa tahun terakhir, Mbah Diah, lebih sering berjualan di Pasar Wotgalih pada saat Kliwon, agar lebih dekat dengan rumahnya yang berada di daerah pegunungan Sriten.



Mbah Diah, 73 th, tengah baju Ungu. Dawetnya telah habis sebelum jam 7 pagi. 

Di sebelah Mbah Diah berjualan, dekat tangga naik pasar, Suparto 38 tahun, duduk menghadap barang dagangannya; Walang Sangit. Pertangkup walang sangit dihargai Rp 1000,-. Biasanya, Suparto menyanding pula belalang dan ulat jati. “Sekarang belum musim perburuan belalang dan ulat jati. Jadi susah mencarinya,” katanya, memberi alasan. “Belalang dan ulat jati muncul pada musim rendeng, musim penghujan.”

 Walang Sangit, setangkup dihargai seribu rupiah saja.

Penjual sarang semut ramai diminati pembeli.

Pasaran hari ini terasa sangat istimewa bagi para pedagang Pasar tradisional seperti pasar Nglipar. 
Karena pengunjung yang datang kebanyakan pemudik yang datang dari Jakarta. 
Sinar, 49 tahun, warga Pilangredjo, berkunjung ke pasar tradisional menemani anak, sepupu dan saudaranya yang datang dari Jakarta. Ia membeli beberapa tangkup walang sangit. Keluarga dari suami anaknya yang ikut mudik ke Gunung Kidul, ingin merasakan bagaimana segarnya sambal walang sangit. Ia sengaja mengenalkan makanan khas Gunung Kidul agar anaknya tak lepas dari akar sejarah asalnya


                          

 Sinar, 49 tahun, dibonceng anaknya pulang dari pasar.

Menurut data yang beredar di beberapa media sekitar 15.000 pemudik telah datang ke Gunung Kidul pada lebaran tahun ini. Dan, sehari menjelang lebaran mereka memenuhi pasar-pasar tradisional yang ada di wilayah masing-masing untuk membelanjakan uangnya. Membeli kuliner tradisional khas yang tak ada di Jakarta seperti Walang sangit, dawet ganyong, sarang semut, belalang, ulat jati, gathot, dan jajanan tradisional lainnya.



Pasar  Nglipar hanyalah satu dari beberapa pasar tradisional yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Selain hari pasaran Pon, pasar Nglipar juga mempunyai hari pasaran lain yakni pasaran Legi, tapi tak seramai pasaran Pon. Tak jauh dari pasar Nglipar ada pasar Wotgalih, yang hari pasarannya jatuh pada hari pasaran Kliwon dan Pahing. Hari pasaran besarnya jatuh pada hari pasaran Kliwon yang ramai pengunjung. Kemudian Pasar Gojo yang hari pasarannya pada Wage dan Pahing. 



                                                                                              Pernak-pernik buat remaja putri.


Lalu Pasar Semin, hari pasarannya sama dengan pasaran Nglipar yakni, Pon. Pasar Karangmojo di kecamatan Karangmojo hari pasarannya juga jatuh pada Pon. Kemudian ada Pasar Ngalang yang lebih kecil, hari pasarannya pada Wage. Lebih jauh lagi ada, Pasar Ngawen yang hari pasarannya jatuh pada Legi dan Wage. Pasaran besarnya pada Legi.



                                            Seribu rupiah untuk Gathot khas pasar Nglipar. 

Berbeda dengan pasar moderen yang buka setiap hari. Pasar tradisional merupakan identitas budaya  jawa. 
Sejak jaman mataram kuno sistem pemerintahan telah dibangun secara teratur dengan tujuan menyejahterakan masyarakat menggunakan sistem Pancawara, yakni siklus 5 hari; Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage. Sistem pranata sosial ekonomi yang menjangkau daerah seluas-luasnya. Penggunaan pasaran Pancawara dalam sistem ekonomi pasar di Jawa, terutama wilayah kekuasaan mataram kuno,  merupakan penggiliran keramaian pasar agar adil dan merata. Pada jaman dulu, pusat komunitas, misalnya ibukota kabupaten, hari pasarannya telah ditentukan yakni Kliwon. Hari pasaran lain dipakai secara bergiliran untuk meramaikan pasar-pasar yang ada di sekeliling pasar pusat kota, misalnya pasaran Legi, Pahing, Pon, Wage.